Rabu, 21 Desember 2011

Pernikahan Putri Kraton Yogyakarta, Sarat dengan Segi Budaya

          Pada tanggal 16 sampai dengan 19 oktober 2011, digelar pernikahan antara putri bungsu kraton jogja, Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni yang akan menikah dengan Achmad Ubaidillah.
Sang Menantu Sultan, Ubai, lahir di Jakarta pada 26 Oktober 1981. Dia merupaan warga biasa, kedua orangtua asli Lampung, karirnya sebagai PNS Badan Pertanahan (ayah ubai) dan PNS Kementerian Agama (Ibunda Ubai). Ubai juga berstatus PNS di Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) dan menjabat Kasubid Komunikasi Politik Bidang Media Cetak.
            Adapun prosesi pernikahan putri kraton Yogyakarta tersebut adalah :
16 Oktober : Prosesi Nyantri
17 Oktober : Siraman - Majang - Pasang Tarub
18 Oktober : Ijab - Panggih - Resepsi (NB: Kirab pukul 16.00)
            Pernikahan kraton tersebut sarat akan nilai budaya yang sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Berikut nilai-nilai budanya yang terdapat dalam pernikahan tersebut, diantaranya:
1.              Prosesi Nyantri, merupakan proses dimana pengantin pria saat memasuki Kraton. Sementara pengantin putri menjalani tradisi kraton seperti seungkem kepada kedua orang tua, pengajian di Masjid Panepan Yogyakarta. Masjid tersebut sebagai tempat ijab qabul. Dalam proses nyantri ini diselipkan upacara “plangkahan” dimana putri bungsu kraton mendahului kakaknya yang masih studi di luar negri.
2.            Siraman, merupakan tradisi dimana calon pengantin putri diwawancara oleh sri sultan tentang kesiapan tentang pernikahanya.
3.                   Kirab Budaya, merupakan perpaduan antara pesta rakyat dengan pesta kraton. Pasangan pengantin akan diarak dari kraton Ngayogyakarta menuju perempatan Kantor Pos Besar (Monumen serangan umum 1 maret), menyususri Jalan Maliboro.
    
 Achmad Ubaidillah, merupakan menantu dari sultan. Dia merupakan rakyat biasa. Jadi, ini juga membuktikan bahwa pernikahan di kraton tidak hanya kental dengan segi budayanya, tetapi juga moral. Tanpa membedakan keturunan entah itu  bangsawan maupun keturunan darah biru.
            Sri Sultan HB X menyatakan pesta pernikaan putrinya bukan dari dan untuk kraton saja. Momen ini jugabagian dari pesta budaya dan pesta rakyat. Dia menyampaikan terima kasih. "Prosesi pernikahan ini bisa jadi aktivitas seni budaya. Ini momen kebersamaan dan itulah kekuatan Yogyakarta," kata Sultan

Sumber   : http://konsultasisawit.blogspot.com/2011/10/prosesi-pernikahan-putri-bungsu-keraton.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Luangkanlah waktu sedikit tuk tinggalkan pesan dari apa yang engaku lihat